Pasca Pandemi Covid, Bali Terpukul Telak, Batam Lebih Bertahan
Kuta 25 Maret 2021
Pengurus Badan Promosi dan Pariwisata Daerah Kota Batam ikut digandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam ke Pameran Perdagangan dan Pariwisata ITT 2021 di Bali. Di sela kegiatan tersebut kami menyempatkan berkunjung, berkeliling dan mewawancarai banyak orang terkait sepi nya wisman baik lokal maupun mancanegara.
Sebagai badan yang dibentuk Undang-undang, yang mewadahi asosiasi-asosiasi terkait pariwisata dan yang dilantik walikota, Badan Pariwisata perlu menyerap segala informasi termasuk kondisi pariwisata daerah lain.
Meski secara sepintas namun cukup menggambarkan suasana Bali saat ini.
Sebagai ranking ke 2 provinsi dengan kunjungan wisman terbanyak, perlu juga melihat di lapangan kondisi aktual Bali, yang dari berbagai berita sepi wisata sehingga sepi kegiatan ekonomi rakyat.
Mulai Tanah Lot di Tabanan, Pantai Kuta di Badung, Pantai Kuliner Jimbaran di Badung, Nusadua di Badung, serta obyek wisata belanja sepertii Krisna, Joger di kawasan Tuban Badung, dan beberapa tempat. Kesimpulan sementara, ternyata benar bahwa Bali terjejas ke angka nol, oleh badai Covid, sementara Batam terkesan lebih lebih baik geliat kehidupannya dan wisman lokal masih berdatangan, sehingga warga Batam patut bersyukur.
Dapat dilihat dari terutama masih penuh nya seat pesawat ke Batam dibanding Bali, aktivitas Bandara dan Pelabuhan Batam masih ada geliat, dibanding dengan Bali, tidak sedrastis Bali.
Ketika mendarat di Bandara rombongan Disparbud disambut oleh guide Bali, Dewiq, yang membuka perkataan dengan sapaan, bersyukur kedatangan rombongan pameran ITT di Bali adalah pecah telor bagi jasa mereka, setelah sempat di bulan Januari timnya masih mendapat tamu yang berkunjung ke Bali.
Beberapa petugas bandara Bali yang diwawancarai juga mengabarkan hal senada, berikut sejumlah driver online yang mengakui mereka hanya bisa beroperasi di Kota Denpasar yang dulunya kurang diminati, kini Kota Denpasarlah tumpuan mereka. Meski geliat itu tidak sama sekali memacetkan Denpasar.
Badung yang dinilai sebagai kabupaten terkaya di Bali, dengan obyek Kuta, Legian, Tuban, Jimbaran, Nusadua, Uluwatu, Pecatu dan banyak sekali obyek wisata, menurut kesaksian sejumlah warga di Bali justru sepi.
Tanah Lot (Tabanan) yang normalnya tidak kurang dari 1.500 mobil kecil besar parkir kini terlihat kosong. Para penjaja jualan asongan atau foto ekspress bercerita hingga sore itu belum ada pemasukan.
Pantai Jimbaran yang terkenal mengusung konsep Romantic Dinner, makan malam didahului dengan menyaksikan sunset, berisi ratusan restauran seafood sepi pengunjung. Malah untuk datang ke sana khabarnya harus memesan makanan terlebih dahulu.
Sama halnya di Pantai Kuta yang tersohor. Beberapa kali kami mencoba wawancara wisman tidak berhasil, dengan alasan tidak bisa berbahasa Inggris, kemungkinan merek terperangkap covid.
Meski demikian kami tidak menemukan satu pun orang asing baik di Tanah Lot, Jimbaran beberapa hari berselang.
Di Pantai Kuta, hanya ada beberapa orang wisman Rusia, Ukraina yang datang ber-surfing dan duduk sejenak di Pantai Kuta, yang juga hampa wisman lokal.
Berbeda dengan Batam, kata Direktur Eksekutif Batam Tourism and Promotion Board Edi Sutrisno, meski kedatangan wisman ke Batam hanya sekitar 400 orang, namun pengunjung domestik masih mendatangi. Geliat acara warga seperti kunjungan Nomadic Fiesta berbagai komunitas ke obyek wisata Batam, klub motor atau even-even yang mendatangkan pengunjung domestik ke Batam masih ada, meski tetap tunduk dan menyesuaikan diri dengan protokol kesehatan.
Pekerja pariwisata di Bali pulang kampung, baik orang Bali maupun daerah lain. Hal ini dikatakan dikarenakan tidak ada sektor lain yang bisa diandalkan bagi mereka karena Bali betul-betul mengandalkan pariwisata dan arus kunjungan.
Namun demikian beberapa pekerja pariwisata memanfaatkan kenderaan mereka berjualan, seperti jualan masker, jajanan, atau pakaian dan pernak pernik Bali di jalanan meski Pemerintah Provinsi Bali sempat memberlakukan jam malam yang lebih mendramatisir suasana, begitu juga dalam hal beribadah orang Bali pun sangat dibatasi.
Di jalur wisata religi lokal luar Bali pun, Bahkan sering terjadi bus-bus wisman lokal yang nyeberang dari Banyuwangi, kebanyakan wisata religi, semacam ziarah makam Wali Pitu (Wali Tujuh) yang terkenal di Bali yang cukup mendatangkan peziarah Muslim, sering dipulangkan ke Jawa karena tidak memenuhi protokol kesehatan. Razia ketat mirip operasi gabungan tilang gencar dilakukan pemerintah Bali sehingga menambah suasana trenyuh, sangat berbeda dengan Batam. Seorang pekerja pariwisata asal Purwokerto menceritakan untuk masuk dari Banyuwangi, ke Kuta, ia harus rela kenderaan ya ditahan petugas hingga 4 kali di daratan Bali. Sangat ketat.
Bali tampak lengang di obyek wisata. Menyusuri jalan-jalan utama yang dulunya selalu padat kenderaan dan pejalan kaki, kini sepi. Kami beberapa kali melewati Jalan Legian yang sangat terkenal itu. Sejak memasuki jalan searah itu tampak tidak ada kenderaan hingga ke ujung jalan. Toko dan restauran, bar yang umumnya padat ramai malam hingga pagi tidak ada lagi. Memasuki jalan pantai Kuta, bangunan umumnya tutup, tidak terawat bahkan McDonald tutup. Rumput ilalang pun tumbuh di bangunan semacam bekas hotel, resto, bar dll, sering terlihat puing
-puing bangunan yang terkesan dirontokkan secara paksa.
Kami lalu mencoba menikmati suasana sepi. Memasuki pantai Kuta Legian tepat di depan Hotel The Stone, kami mencoba Dian dan menikmati. Dalam dua jam hanya ada 3 keluarga wisman asal Rusia, Ukraina yang ada di situ. Mereka tidak bisa berbahasa Inggris sehingga sulit mengetahui kenapa mereka ada di Bali namun tampaknya mereka wisman yang terperangkap Covid.
Dan setiap berbicara dengan warga Bali semuanya mengeluarkan bahasa negatif. Berbeda dengan Bom Bali 1 dan 2, Covid membawa Bali sepi seperti tahun 80 an.(sml)












































